Kacamata

Hikmahnya lahir pagi tadi, setelah pelajaran masuk ruang persalinan.

Dari ruangan itu aku lihat sorot matanya, wajahnya dan tingkah polahnya. Menurutku ini sudah cukup dekat untuk memperhatikan peta garis kenyataan.

Aku lihat dia di matanya, entah apa ini, sederhananya, aku bisa lebih dekat dengannya.

Sampai aku tukar kacamataku dengannya walau bukan ukuranku. Nyatanya aku belum sanggup,

Sekuat apapun aku pagi itu, aku hanya bisa terkunci di ruang diskusi, ruang yang terlalu penuh dengan gulungan kertas sebab akibat, ketika soal ini terlampir.

Mungkin akan lebih lagi, bila aku layangkan tanya jawab yang lebih pribadi. Tapi aku enggan. Walau ada kemungkinan dia curiga ketika bola mataku tercecer di ingatan masa miliknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s