Karib raib

Aku benci kesepian. Dulu, aku pikir, bila sudah kaya, aku tidak akan merasa kesepian. Ringkasnya, aku bisa hubungi teman-temanku atau datang bertamu dengan beberapa plastik bingkisan kesukaan. Mereka pasti suka gratis dan aku bisa sisihkan kesepian jauh-jauh.

Ini berfungsi, kadang-kadang.

Nyatanya, kesepian ingat betul dimana aku berada. Dia selalu pintar Mengendap-endap masuk ke halaman rumahku kala sepi menyala seperti srigala, sampai kunci cocok dengan lubangnya.

Roar. Aku diterkamnya, tolong. 

Hartaku mendadak tidak berfungsi seketika, Dimana mereka, aku butuh mereka. Nyatanya teman-temanku sedang asyik dengan sibuk bersama teman sehidup-semati atau pasangan calon pelaminan mereka masing-masing.

Merintih perih, bersimbah pasrah. Karibku raib. Kuda-kudaku runtuh, hingga aku tidak bisa lagi memilih mundur untuk mundur.

Sampai ketika raga tanpa daya, rotasi tanpa momentum, semua berhenti di satu pintu.

Yang hanya terbuka, bila tulang rusuku kembali ke tempatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s