Somebody asking me,

“Gak nonton persib, kang?”.

Pertanyaan itu kontan menyeret saya kembali ke stadion siliwangi, dimana ayah saya pernah dibasahi lemparan air kencing dalam botol dari tribun.

Saat itu, saya hanya anak kecil yang hanya bisa menelan kisah pahit itu sendirian, tanpa bisa berbuat lebih untuk melawan.

Hingga telinga saya berdengung untuk sekedar mendengar sorak-sorai dukungan dan mata saya mulai buram untuk melihat birunya bandung yang makin lama makin gelap. Eratnya genggaman tangan ayah saya waktu itu masih saya mengerti untuk membawa saya segera pergi dan lupakan. 

Nyatanya. tidak semudah itu, tidak segampang itu.

Lalu, harus saya sembunyi dimana lagi, ketika baju biru dan akte kelahiran bandung yang saya dan ayah saya pakai, tidak bisa saya jadikan tameng untuk terhindar dari benturan keras ini?

Sampai hari ini bergulir, Saya tidak percaya lagi dengan istilah oknum, karena air kencing yang basahi ayah saya waktu itu adalah air kencing manusia, bukan air kencing oknum yang entah harus saya klasifikasikan seperti apa jenis manusia berlabel oknum tersebut.
Hingga detik ini, saya masih simpan diorama itu di etalase kehidupan saya. 

Terimakasih kehidupan, atas hadiah yang masih terus saya gunakan untuk terbebas dari kubangan strategi dagang cinta buta pendukung tim sepak bola dan permusuhan saudara hanya karena beda warna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s