penjaja teror!

“ya selamat sore, saya baru saja keluar penjara, dari pada saya mencuri, lebih baik . . . “, terusannya saya lupa, karena bicaranya dimabok-mabokin. sue.

kejadian ini saya alami kemarin, di dalam bus ekonomi sore hari. setelah lama sekali tidak di palak dan kemarin sorelah saya di palak lagi.

saya kira modus ini sudah di tinggalkan pemikiran sejak datangnya teknologi. tapi tidak, saya kalah banyak atas taruhan ini.

tuan-tuan dan nyonya-nyonya, tolong tepuk tangan, pertunjukan akan segera dimulai!

dengan narasi yang kurang lebih sama, seperti narasi yang saya tulis diatas. mereka berdua sebar posisi ketika berada di dalam bis. si pendiam ada di jajaran banguku belakang bis dan si narator ada di depan bis dekat supir.

“ya-ya-ya”, mungkin ulang-ulangan kata-kata itu yang bisa saya rekam sampai kini. karena setiap awal kalimat, si narator selalu bilang “ya” sebagai preambulnya.

eh, tau-tau selesai, omong-omongnya.

saya yang ada di bangku belakang ngasih saja uang koinan ke si pendiam yang menengadahkan tangannya. kabar baiknya, saya yang saat itu ada di bangku paling belakang, jadi kena tagihan dua kali. karena si narator yang mabo-maboan itu, tidak lihat kalau saya sudah di audit sama asistennya.

“minta goceng!”,

si narator yang sempoyongan ditambah wajah di sangar-sangarin bilang begitu ke saya. ya saya kasih saja. tapi dia anaknya healty lho, ketika saya tawari dia rokok, dia gak mau. ah, mungkin dia gak doyan surya pro. sama kayak satpam perumahan di komplek dekat stasiun poris.

tidak lama, si narator turun bus dengan gemilangnya capai aspal. eh dia lupa, dia tinggalkan si asisten yang duduk sejajar di bangku belakang dengan saya. bayangkan, bagaimana hatinya menjadi hancur karena itu, akibat pecah sengketa yang biang keladinya hanya sekedar remah-remah bubuk dompet.

si asisten yang termenung semenjak ditinggalkan si narator, tidak lama minta rokok ke saya. senang rasanya, akhirnya, ada juga yang doyan surya pro.

tidak lama, dia bangun dari duduknya, menuju ke pintu belakang bus.

terimakasih bang”, teriakan pertama si asisten

nuhun mang”, teriakan selanjutnya.

“nuhun (apa ya, lupa)”, teriakan yang kesekian kalinya.

si asisten mengulang-ulang teriakannya, berharap si sopir injak pedal rem seketika agar dia bisa turun dengan selamat, tapi sayang, bus tidak mau berhenti. syukurlah, bus akhirnya berhenti juga walau di beberapa ratus meter setelahnya dan beberapa kilo jauhnya dari posisi si narator.

semoga dia tidak tersesat dan bisa pulang kembali ke keluarganya yang rindu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s