selayang pandang

malam hampir capai puncaknya. di tigapuluh menit terakhir, perhatianku dipaksa patuh pada pedagang sendal yang narasinya belum laku-laku.

iba dong, karena profesiku sama seperti dia. sama-sama jualan harfiah-nya. perasaanku berbisik padaku untuk percaya, tapi disisi lain logikaku tidak begitu.

ceritanya mungkin akan banjir rating dan air mata, kalau di pancarkan ke tv-tv rumah kamu. tapi, dalam persuasinya yang gemilang, di jari-jari tangan masih sanggup terselip sebatang rokok menyala. dan itu yang membuat logikaku tidak mau tunduk setuju.

aneh memang, apa yang membuat si om penjual sendal begitu nelangsanya di malam itu, sedangkan rokok di tanggannya yang tidak lebih besar dari badanya, sulit untuk dia tanggalkan.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s