Ketiak Orang Tua

Lagu ini aku khususkan buat kamu, duhai jiwa-jiwa pemberontak yang masih berteduh di bawah ketiak orang tua.

Nyalimu memang besar, dengan resiko jajan hari esokmu yang terseok-seok. Kamu masih bernyali untuk tetap duduk tak bergeming di bangku warung jamu.

Ketika malam sudah larut, ketika tidak ada lagi alasan untuk di alas. Kamu masih bersikeras alesan lembur, padahal sedang asyik bermain air yang kini muahal harganya.

Semua juga begitu awalnya, hanya sebotol. Tapi kok lama-kelamaan, pernyataan itu menjadi pertanyaan. Hanya sebotol? Cukup? Iya, gitu?

Wajarlah bila dasimu kini melingkar menjalar kekepala. Karena kamu berdalih takut tercekik, serius.

Dan pulanglah kamu dengan setengah tidur, aduh, kunciku tadi aku simpan dimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s