The eldest of BEC.

Jangan sangka akan banyak cahaya, seperti adiknya. Kakaknya ini kalem sekali. Dingin. Eh bukan, Horror lebih tepatnya.

Namanya CEC, Cikapundung Electronic Centre.

Kalau kamu bosan dengan braga yang hura-hura kala malam. Kamu bisa tanya tukang parkir atau aa-aa akamsi, dimana CEC berada. Kamu boleh kesana. Sangat boleh. Ingat, jangan bawa lilin, Bawa uang.

Sebelum kamu berhasil menemukan tempatnya dan bahagia. Tolong buang jauh-jauh fantasi liarmu tentang pencet-pencet dummy xiaomi, samsung atau nokia terbaru seperti BEC. Karena fantasimu tidak akan terpuaskan.

Fyi, CEC kalau malam hanya terisi pasar barang antik dan hanya di lantai 3.

Malam tadi aku kesana. Mungkin ketika aku parkir di ceu Mar, Jam sudah ada di pukul 20.00. Mungkin.

MerindingBosque!

Aku tahu ini tidak akan baik-baik saja untuk kunjunganku malam-malam. Terlebih aku adalah #TimAntiFilmHorror. Jangankan masuk, mengintip bangunan 3 lantai ini dari jauh saja, sudah menguras kaloriku, hampir sama seperti Nonton Horror di Bioskop. Dan aku aktor utamanya.

Gelap. Gedungnya gelap. Jalanya gelap. Hanya ada beberapa kerumunan manusia yang entah berkonspirasi tentang apa.

Aku kenal seragamnya. Itu satpam. Segera aku buka IG-ku, aku tanyakan dimana lokasi toko ini.

Si bapak menunjuk-nunjuk sebagai kode dan Dia bilang, “. . . aa masuk saja ke parkiran, nanti ada lift, Pencet saja lantai 3″. “Nuhun pak”, jawabku.

Ketegangan makin menjadi. Ketika aku harus menggunakan lift, seketika fantasi horrorku luber kemana-mana. Terlebih setelah pintu lift terbuka dan aku masuk di dalamnya.

Kamu harus coba dan rasakan sendiri vibrasi dan suara lift-nya, terlebih bila kamu sendirian. 

Aliran darah seakan longsor kekaki bosque dan bulu kudukku mungkin sebagian sudah rontok berjatuhan, karena kehorroran ini sudah melebihi dari fase merinding bulu kuduk berdiri.

Ting! Pintu lift terbuka.

Boom! Aku seperti ada di masalalu. Dari suara lagunya, aromanya, barang barangnya, manusianya, kemanusiannya dan nuansa ini membuatku lupa, aku sedang berada di bandung 2017 masehi. Karena dia sudah sukes pecahkan nalarku tepat ketika pintu lift terbuka.

Ini gila. Aku suka. Kamu harus kesana. Harus. 

Dan ketika aku pulang, melewati asia afrika yang dihiasi manusia multi usia, berteduh di bawah cahaya lensa kamera. 

Ingin sekali segenggam bahagia ini aku taburkan pada mereka. “Kalian harus kesana. CEC, The eldest of BEC”.

Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s