Lipatan Ruang Waktu

Edi akhirnya harus melawan dingin, sengaja dia jalan kaki. Biar ramah lingkungan. Karena dia tidak mau membangunkan seisi gang, gara-gara suara knalpotnya yang membahana.

Tiap-tiap gang ia selidiki lampu-lampu warungnya, karena cuma itu yang bisa ia jadikan tanda kehidupan.

Dapat!

Edi melihat lampu kios yang masih bercahaya, keringat di dahinya yang sebiji-biji jagung kini seperti hilang tersapu angin kemenangan.

Tapi aneh,

Ini seperti bukan warung yang biasa dia kenal di lingkungannya. Apa ini warung baru? Yang jelas, warung ini terlalu cepat bediri dan terlalu awam di benak Edi.

Ah, bodoamat! Yang jelas, akhirnya dia bisa beli rokok. 

Beli super sebungkus!, pekik Edi di depan kios. Keluarlah sebungkus rokok pesanan Edi dari lubang kios. Dengan sigap, edi membuka bungkus rokok itu dan menyalakan satu batang di bibirnya. Mmhhh-mhhh, kok enak ya, filternya kok manisnya gak kayak biasanya. 

Lahhh????

kok bungkus supernya aneh, mana gamba-gambar penyakitnya? Lah-lah, kok barang dagangan kios ini isinya jadul semua? 

Jangan-jangan!!???

Edi berlari sekuat tenaga, berlari tuju rumahnya. Tidakkk!!!! Area lingkungan Rumahnya kini berganti seperti mundur 15 tahun kebelakang. 

Tolong-tolong, Edi melolong, mengaung-ngaung!

Tidak lama, pundak edi di tepuk dari belakang. 

Edi-ed, bangun udah siang. Si emang kios rokok nagih utang, katanya kamu kabur & gak bayar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s