Ospek sialan!

Sepagi ini aku harus push-up dan sit-up, kata kakak angkatan, aku kesiangan. Pusing memang, siangnya sebelah mana jam 6 pagi!?

Ospek sialan. Sarapan pagiku akhirnya berhamburan via kerongkongan ke jalanan, setelah melahap hukuman si kakak angkatan yang memfonis aku telah kesiangan.

Dasar wanita galak. Dia memarahiku lebih dari ibuku. 

Nisa itu seperti raisa yang belum kawin, matanya sayu menyihir dan membius.

Tapi kalau marah, pemarah senior sekalipun akan tobat menjadi pemarah saat dimarahinya. 

Oke. Kalau dia bisa galak, aku siap jadi menyebalkan. Biar pacaran sekalian.

Aku memang pendendam. Biar dia tahu rasa, bagaimana rasanya balas dendam.

Persetan ospek, misiku lebih penting.

Aku jaga konsistensi peranku, ketika kami harus bertemu. Terlebih, dia adalah mentor di ruanganku.

Di tengah hari pertama, namaku sudah jadi langganan absensinya untuk di jadikan sasaran penderita. Aku di suruhnya ini itu tanpa ragu.

Sampai akhirnya angkatan kami di kumpulkan di lapangan, untuk unjuk kebolehan dan tiap kelas harus ada perwakilan.

Sudah kuduga, pasti namaku di sebutnya untuk ajang sialan ini.

Benar saja, dia memanggilku untuk menunjukan kebolehanku menari korea, di hadapan angkatanku sendiri. Bangsat sekali memang mulutnya.

Ok. Aku maju tanpa ragu. Aku tuju mikrofon dan berkata, “terimakasih kak, atas kesempatannya. Saya memang pandai sekali joget korea, tapi saya butuh pasangam untuk melakukan ini. Setuju gak kalau pasangan jogetku adalah kakak nisa, mentorku yang paling ramah dan baik hati?”.

“SETUJJJUUUUUUU!!!”. Suara menggelegar penuhi lapangan, bercampur tepuk tangan.

Merah padam kulihat wajah mentorku. Karena tidak sanggup menerima kenyataan yang berbanding terbalik.

Terimakasih Ya Alloh, atas kesempatannya (aku bergumam dalam hati).

Aku pegang tangannya. Sambil menggerakan badan sebisaku agar mirip seperti menari. Entah saat itu aku menari apa. Yang jelas aku sudah menang banyak di ronde itu.

Di hari ke-dua,

Mentorku tidak masuk. Syukurlah. Akhirnya, Aku bisa libur jadi menyebalkan. 

Berkat tari cacing korea hari kemarin, aku jadi terkenal bukan main. Tepatnya terkenal tebal muka dan anti malu.

Teman seruanganku langsung akrab denganku. kabar baiknya, presentase mahasiswi cantik di ruanganku sangat baik. Aku jadi betah, persetan dengan apa yang mereka bicarakan, yang jelas, mereka sudah “cair”, mengobrol denganku, terlebih hafal namaku, walau pelafalannya tidak jarang salah semua.

Ketika isoma, tanganku di gondol kakak mentorku yang akhirnya aku tahu, namanya Cesa, dia cantik dan jinak. Aku dibawanya ke parkiran dekat pos satpam.

Cesa, bibirnya tipis-tipis, Matanya optimis. tingginya bikin iri, senyumnya surgawi sekali. Kalo ngobrol dan matanya udah kontak sama mata kamu, aku jamin kamu akan lupa dunia.

Kamu api, kan? Iya kak, kenapa?

Mentor kamu sakit, dia pengen ketemu sama kamu. Sini tangannya (dia tulis alamat dan nomor telfon di tanganku).

Ok gitu aja ya pi, dahh. Dan cesa pergi berlalu.

Ini apa sih? kok aku yang harus nengok? Apa dia ingin menyerah? Atau mau pasang jebakan betmen lain, di luar medan pertempuran ospek sialan ini?

Setelah beres ospek, aku langsung tuju rumahnya. Aku tahu ini akan lebih pelik, karena rumahnya ada di komplek militer, sebut saja kpad.

Tok-tok-tik eh. Tok!

Selamat sore bu, Saya Api, sekuriti kampus, boleh ketemu Nisa?. Boleh-boleh, tunggu sebentar ya pak. jawab si ibu seraya pergi kedalam rumah.

Tidak lama, datanglah nisa setengah menahan tawa, seraya duduk di kursi tamu dekat aku.

Api, kamu tuh ya! Gak aku, gak ibu aku, kamu becandain. Nyebelin!

Aku dan nisa akhirnya ngobrol kesana-kemari kek setrikaan. Cair banget bosque! Dan aku baru tahu, akal-akalan nisa yang sakit dan ingin sekali aku kerumahnya, semata-mata mau minta maaf karena udah bikin aku muntah karena hukuman yang dia bikin. Terlebih dia mau minta aku untuk ikutin aturan dia, untuk akting tunduk patuh sama mentor (di lingkungan kampus). Katanya, biar nanti pas udah jadi mahasiswa, bisa menghargai kakak angkatan (red:senior).

Aku setuju, dengan satu syarat. tiap hari sehabis ospek, nisa harus teraktir aku makan/jajan dan aku yang tentukan tempatnya. Dan dia setuju. 

Jam 20.30an aku pamit pulang, karena aku harus bangun pagi, untuk ospek sialan. Lagi.

Ospek hari ini adalah ospek yang nyaman. Aku tidak lagi harus nyebelin. Karena capek juga.

Api!, nisa memanggilku saat isola. Iya nis, jawabku. Dia cepat-cepat meraih lenganku dan dicubitnya. Adoohhh!, teriaku. Panggil aku kakak! (berkata pelan di dekatku). Okei-okei, tapi lepasin cubitannya kakkkk!, jawabku.

Datanglah cesa, kenapa pi? Tanya cesa. Tauk nih kak nisa galak banget, jawabku. Ok api, sebentar lagi waktu isola habis, cepat selesaikan apa yang harus di selesaikan. Kakak tunggu di kelas, jangan sampai telat!, nisa seraya berlalu. Meninggalkan aku dan cesa.

Eh, gimana kemarin? Tanya kak cesa. Aduhh kak ngerriiii, kapok deh. Tau gitu, saya gak mau ke rumah kak nisa. Jawabku. Halah bo’ong banget, Ntar beres ospek, mau pada makan di mana? Tanya kak cesa. Eit, Rahasia duong!, jawabku sambil berlalu meningalkan kak cesa sendirian.

Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s