trenggalek ponorogo

cekess, nina nyalakan samsu kreteknya di pagar rumahnya yang menghadap jalan. hakiki sekali untuk mengawali pagi.

ninnnaaa. dari jauh deden memanggil. dengan celana hijau sedengkul dan baju golkar, beserta majalah dikempit di ketiaknya, deden pun mengawali hari yang sangat artsy pagi itu.

nin, si mamah ada di rumah ga? tanya deden. mau apa gituh? tanya nina balik. nih (menyodorkan majalahnya), mau minta tolong bacain ramalan bintang sagitarius, kata deden.

antik wae sia mah, den. jang naon di beuli ath mun teu bisa maca mah (ada-ada aja kamumah den, buat apa beli majalah kalo gak bisa bacanya). jawab nina. kzl.

biarin atulah. jawab deden. sambil garuk-garuk itu-nya (red: kepala). jangan ah, jawab nina. kenapa? jawab deden. mamah aku masih senam piki burki jam seginimah, sibuk. jawab nina. oksip bosque. jawab deden.

akhirnya nina dan deden sama-sama mengergaji pohon milik pa samsul (tetangganya). karena menurut mereka pohonya sudah terlalu tinggi, ditakutkan nanti pohonnya sombong.

krekekkk bruggg! pohon pa samsul ambruk. aduhhhh-aduhh, terdengar suara orang mengaduh.

kenapa pak? tanya deden. nurustunjung siah monyet, kamu gak liat tadi saya lagi diatas pohon metik mangga? maen gergaji aja, monyet siah!!

maaf pak, tanggung. jawab deden sambil menyeruput kopi milik pa samsul di meja tamu.

hayu nin tugas sudah selesai, jawab deden seraya melangkah pergi dari rumah pa samsul. ok bosque, jawab nina.

tunggu, aku ikuttttt! teriak pa samsul sambil berlari ganti baju ke dalam rumah.

dan kini, mereka bertiga menghentikan beca yang lewat. mau kemana pa? tanya tukang beca. ke trenggalek ponorogo berapa-eun mang? pa samsul balik bertanya.

jangan macem-macem ya, saya intel pulisi. jawab tukang beca. ampun pak, jangan tangkap saya, anak saya belum lahir. jawab pa samsul ketakutan.

dan tukang beca pun berlalu meninggalkan mereka bertiga sambil stending.

bosque! ada angkot bosque, kata nina sambil menunjuk arah posisi angkot. oklah, jawab pa samsul dan deden.

ciiittttttt. angkot pun berhenti. seraya mereka masuk di pintu depan bertiga. ngenggg!

mang ini angkot jurusan apa? tanya pa samsul. mmhhhh-mmmhh, kalapa-dago pak. jawab supir angkot. berhennntttiiiii, teriak pa samsul. kunaon pak?, tanya deden. turun-turun, saya takut ketinggian. jawab pa samsul.

akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke trenggalek ponorogo.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s