Can i hate the beatles?

Dia tepuk pundakku. Kami akhirnya bertemu di udara, Setelah sekian lama saling sibuk, genapi tiket masing-masing saat berkeliling.

Dia mengenalkan satu isi tas bepergian miliknya untuk aku dengarkan. Antusias sekali. Aku hanya bangga. Itu saja. Ditambah aamiin dan harapan-harapan.

Nyatanya. Waktu sudah sangat laju berlalu dan aku lalai terhadapnya. Sampai-sampai aku kaget bahwa 365 hari itu hanya seperti jarak tidur siangku di kursi tunggu.

Lantas. Mau aku apakan lagu-lagu usang ini. Apakah aku masih pantas menatap rembulan bulat dengan sebatang rokok yang menyala di sela jari-jariku setiap pertengahan bulan dan malam musim kemarau?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s