bir dingin

kamu percaya takdir? aku percaya.

mereka mengenaklan aku kepada semua muka peristiwa. sedari sore aku kaitkan sauh di sukasari. menjaga agar tidak terbawa arus terlalu jauh.

ceritanya malam itu aku akan seperti mereka. masuk di ruang penuh raung, berisik musik dan kumur-kumur bir.

sebelum matahari benar-benar pamit. kamar itu di landa mendung berawan. mataku merah karena asap tidak jemu warnai putih mataku. sampai magrib, sampai isya.

sudah waktunya turun ke kota. sisir semilir angin menepuk-nempuk wajahku. belum berdiri benar sadarku waktu itu. residunya masih bergelayut di mata dan rasa.

dengan pasrah aku panjatkan puji-puji keselamatan. karena aku tahu wajah urban. sadar saja bisa celaka apalagi tidak sama sekali.

sampailah kiranya lepas sauh kedua kalinya. aku kaitkan di gedung-gedung kosong ketika malam. lalu berjalan dan terkesan akan asia afrika yang sayu cahaya-cahayanya.

lalu masuk dan merasuk. tanganku kini mengikat sebotol bintang. bintang kecil yang dingin. arogan atau tidak? kita lihat saja nanti. karena kesan itu sangat pribadi.

dan aku limbung di kursi panjang. tidur seperti bayi dan terbangun dalam kursi yang telah terpesan tuannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s