aku dan rokok imajiner

kemarin.

katanya rokok adalah teman, tapi saat itu aku tidak setuju. dia tidak datang saat aku benar-benar ingin. kenama dia. katanya teman.

akhirnya. aku bulatkan tekad untuk pura-pura. berakting merokok dengan penghayatan penuh. terlebih anggota badanku setuju. lalu jadilah sandiwara mahakarya itu terjadi di kasur kamarku.

pertamanya sih risih. terlebih otakku yang sempurna ini menemukan kejanggalan akan aktifitasku yang ganjil.

tapi.

setelah beberapa kali take. aku jadi menikmatinya dan kini jadi ketagihan.

“tidak perlu rokok, untuk merokok. pikiran kita adalah pabriknya. ambil saja sesukamu. karena itu milikmu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s