toa

suara itu terdengar lagi. sayup-sayup kegelisahan yang harus segera di genapkan. liburan. ya. liburan. terlebih aku yang laki-laki sangat butuh terapi kejut untuk menstimulasi kadar adrenalinku yang gampang lapar.

bagiku liburan adalah tidak lebih dari menjaga kewarasan. itu saja.

dari jumat kemarin aku di hubungi seorang teman. dia terbelit masalah administrasi pajak kendaraan roda duanya. 2 tahun telah libur pajak. sangat pemberontak memang. tapi. hari itu juga ia ingin aku temani untuk menyerahkan diri ke samsat yang berwajib. pasalnya. adiknya yang berjarak 400 kilometer jauhnya. menginginkan kembali motor yang jumat itu aku dan temanku urus kelegalannya, untuk di antarkan kehadapannya.

ok. tanpa pikir panjang. jumat itu juga aku sanggupi untuk ikut mengantar motor kesayangan sang adik temanku ke tempat tinggalnya.

adrenalinku sontak kesenangan bukan main. karena perutnya tidak lama lagi akan segera penuh terisi. ok. ini untuk kamu. wahai si bara api laki-laki.

malam hari di jumat yang sama. aku genapkan tekadku. menjadi boncengers murni. karena kesepkatan yang sudah deal sebelumnya. karena kalau tidak begitu. aku ogah tidak mau.

perjalanan yang cukup nyaman hanya sampai beberapa kilometer sebelum rel nagrek. hujan sejadi-jadinya kuyupi bandung yang dingin.

durasi hujan yang cukup lama untuk hitunganku yang kini jarang berada jauh dari rumah.

dan. hadirlah drama-drama yang murni dari ego kami. mungkin ini sudah saatnya untuk kami jadi diri kami sendiri. jujur. aku tidak siap kalau jam tayang sinetron ini terjadi secepat ini. tapi aku pasrah saja. toh perjalanan masih jauh. aku tidak mau kehabisan stamina gara-gara adu tinggi ego laki-laki.

beberapa kali pandanganku tertuju pada bus-bus malam di seberang jalan. sifat lemah nan bijaksanaku ingin sekali untuk aku pulang dan tidak meneruskan perjalanan konyol ini. lagipula aku masih punya setumpuk pekerjaan lain yang sudah seharusnya aku tunaikan. terlebih usiaku yang sudah tidak muat lagi untuk mengenakan busana liar penuh resiko.

tapi. aku bisa menegosiasikannya. dan aku menang. adrenalinku ogah kalah pasalnya.

hujanpun berhenti. aku teruskan perjalananku. dan tidak lama kemudian turun lagi hujan. deras. kamipun berteduh di bangunan bambu yang sangat cocok di sebut pos ojek.

sial. sifat bijaksanaku datang lagi. ketika aku masih lihat bus-bus malam di sebrang jalan itu. terlebih temanku yang buang-buang pulsa seraya terus menceritakan segamreng prestasinya melahap etape cimahi sampai wates jogjakarta dengan waktu tempuh yang gemilang.

persetan dengan kalian berdua. untunglah hujan pun reda. terimakasih aku bisa bernafas lega dan kami lanjutkan kembali rute ini.

fyi, etape ini adalah rute paling perawan miliku untuk moda transportasi motor. semua rasa campur aduk nasi rames. senang, marah, penasaran dan melelahkan sejauh ini.

akhirnya hujan turun lagi. dan kami terpaksa berteduh untuk kesekian kalinya. untunglah kini kami ada di minimarket bilangan limbangan garut. kami bisa ngopi-merokok dan membetulkan posisi pantatku yang sudah bekerja keras menahan kerasnya dinamisme rute perjalanan.

di lain sisi temanku lagi-lagi bercerita sepak terjangnya yang hampir seragam seperti topik istirahat pertama. aku benci makanan basi ini. uek!

dan kami lanjutkan lagi perjalanan yang kudus ini. dan lagi-lagi hujan turun. jujur. aku sudah tidak sanggup melemburkan mata. daya upayaku saat itu sudah lewat limitnya. sampai kami berteduh di depan toko.

Maha Baik itu datang lagi, kami di hidangkan kursi panjang yang bisa bersandar.

entah berapa lama aku menyala di sana. yang aku tahu adalah aku sudah tertidur berbantal tas ranselku sendiri. dan betapa indahnya ketika aku bangun, sepatuku sudah basah sebelah karena terbanjiri air hujan.

ketika itu, sifat arifku menjadi bias. aku jadi kembali ke naluriku yang asli. aku hampir bersi tegang karena mungkin aku sudah ada di luar zona nyamanku.

tapi lagi-lagi Yang Maha Kasih, dinginkan kami untuk tetap istikomah merampungkan etape sialan ini.

hujan pun reda. kamipun kembali menaiki motor sialan ini. dan beberapa ratus meter kemudian hujan kembali turun.

kini kami betul-betul ada di teras toko yang sekat penutupnya masih bau las. dan disitulah kami benar-benar beristirahat dengan gaya kami masing-masing.

yang aku tahu saat itu telah berkumandang adzan subuh. tidak lama hujan pun reda.

akhirnya. terimakasih Semesta.

kamipun melanjutkan kembali rute jahanam ini.

akhirnya setelah beberapa kilometer berkendara, lagi-lagi dan lagi-lagi hujan turun. kami berteduh di mushola. sambil rebahan sebisanya. dingin sekali saat itu karena ada di salah satu daerah tasik yang sejuk.

dan yang paling pahit dari meneruskan perjalanan ini adalah. aku harus mengenakan baju, jeans, kaos kaki dan sepatu yang basah di tambah cuaca hujan rintik dan angin yang cukup kencang. ini adalah sarapan pagi paling laki yang pernah aku gagahi. ampun.

dan setelah beberapa kali di tempa cuaca hujan yang sama. kami pun sama-sama belajar dan sepakat menerjang hujan. anggapan kami hujan ini hanya lokal dan benar adanya. setelah kami terjang tembok hujan sekuat tenaga. akhirnya kami bisa memutar roda lebih lama dari biasanya.

yes!

untuk mengapresiasi prestasi ini kami ganjar imbalannya dengan bubur ayam.

bubur ayam ini sangat aneh penyajiannya karena ada mentimun dan rempeyek, tapi luar biasa enaknya.

tidak lama kami teruskan perjalanan. dan seperti kejadian sebelumnya. kami kembali di hadang hujan yang deras.

dan kami seperti mendapatkan ilham, entah apa yang terlintas di pikiran temanku. dia ingin sekali membeli rokok kesukaannya dan ingin membeli di minimarket. jujur pikiranku tidak panjang kala itu. aku ikut saja apa maunya. kami kembali menerjang hujan untuk sekedar mencari minimarket terdekat.

sampailah kami di ciamis. di minimarket yang pertama kami temui di kota itu. dan aku baru sadar. kami telah tempuh belasan bahkan puluhan kilometer untuk menuju minimrket ini. dan mungkin bila bukan ilham-Nya, dengan mentrigger kami untuk mencari minimarket. entah butuh waktu berapa belas jam lagi untuk mencicil rute  yang tidak berujung ini.

aku ringkas saja tulisan ini. dan kami sampai di kampung halaman sang adik di 4.20 sore hari sabtu.

Terimakasih Maha Pengasih. kalau bukan karena-Mu. mungkin aku sudah gelap mata dan saling tikam-menikam di pelosok jawa kala hujan turun di malam atau dini hari.

 

 

 

 

 

.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s