bittersweet

kukayuh sepeda ayahku. meskipun pinjam. komparasi saja. sepegal apa ongkos 4000 rupiah dari rumah ke kantor bila menggunakan betis sendiri.

nyatanya. hadiah dari 5 kilometer ini tidak hanya membuat betisku memuai. nyaliku pun latah kembang kempis. apalagi kalau bukan sisi humaniora yang perasa. yang hampir berhasil menuntunku kembali ke garasi di tiap kayuhannya. kabar baiknya aku tidak mau. etape ini harus dilunasi. dan harus hari ini.

bukan dunia kalau tidak berpasang-pasangan. kenikmatannya adalah aku bisa mengunyah lebih lama tiap gigitan kota kecilku dengan perlahan. merasakan hidangan yang lebih bergizi dari remah-remah yang dulu sukar di nikmati ketika menunggangi kuda besi.

jujur. kini aku percaya bahwa bersepeda itu seperti narkoba. membuat si pecandu selalu rindu untuk selalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s