tawar atau nanar

dalam jual beli. tawar menawar adalah lumrah. terlebih untuk pembeli. apalagi pembeli lagi ibu-ibu. penjual dan pembeli di fase ini sama seperti pertarungan sampai mati. wajar saja. pembeli dan penjual sama sama mempunyai amunisi untuk gempur pertahanan lawan. sengeri itukah jual beli. teruskan saja bacanya. ini akan sangat sengit di tiap baris perbarisnya.

terlebih aku. aku tidak suka berdebat. apalagi perang urat syaraf dalam hal jual beli.

dan kini aku ada di pihak penjual. belajar dagang kasarnya. jujur. sewaktu aku kuliah dulu. aku pernah terlibat dalam satu usaha yang cukup punya nilai bagus di rapor laba hidupku. gamang memang. ketika usaha sedang ranum-ranumnya dan kuliah pun tidak bisa di kesampingkan. karena penalti 3 kali sudah aku tunaikan di lembar kehadiran.

tapi akhirnya. aku bisa jalankan dua-duanya. lebih tepatnya usaha diatas kuliah walau sedikit perbedaannya.

sampai akhirnya aku bertemu dengan 3 kali penalti yang lain. ini lebih berat kadarnya. di agamaku. dalam seminggu sekali. aku wajib lunasi kehadiranku dalam beribadah. tapi di hari dan jam yang sama. pesanan itu muncul dengan partai besar dan tidak bisa di tunda. aku gelap mata waktu itu. aku turuti keduniaanku. sampai 3 kali alpha. berakhirlah semua karierku. Semesta tahu aku masih gila dunia. akhirnya aku kembali ke keseharian sebagai mahasiswa sampai sarjana.

setelah lulus. aku bertemu lagi dengan dunia usahaku dengan seragam baru. aku berjualan perangkat lunak untuk mengantar teman-teman mahasiswa menjadi sarjana. beberapa lagi aku karyakan gubahanku ke retail-retail.

sampai akhirnya ada perusahaan yang sudi mempekerjakan aku. perusahaan ini menyenangkan. baik cara kerjanya. budayanya dan fasilitasnya. aku banyak belajar disana. walaupun hanya beberapa bulan saja. terimakasihku kepada Semesta yang telah menggiringku ke perusahaan ini. banyak sekali modul-modul yang dapat aku aplikasikan ke kesibukanku saat ini.

hingga aku ada di kakiku sendiri. aku kini tidak punya atasan manusia lagi. tidak ada jam kerja. naungan asuransi. gaji satu bulan sekali.

hari hariku kini diisi oleh kemungkinan-kemungkinan yang acak. berbagai lapisan umur dan kedudukan beberapa kali aku temui di transaksi jual beli. dari yang ramah sampai banyak tingkah. dari yang sabar sampai yang banyak menawar.

jujur. fase tawar menawar bagiku adalah hal yang aku hindari. pasalnya. dulu aku adalah orang yang tidak bisa bilang tidak.

sampai pada suatu hari. aku bertemu dengan pembeli yang marketing. licin memang mengalahkan seorang marketing. karena dia dan aku sama sama jual kata-kata dan hipotesa.

dia menawar dengan dalih akan beli bila harga di bawah rata-rata. aku sempat iba dengan latar belakang dia yang telah ia ceritakan sebelumnya. tapi aku lupa. bila aku setuju dengan penawarannya. maka aku sama saja tidak iba kepada diriku sendiri.

sederhananya. ketika kamu turunkan harga jual barangmu. maka pekerjaanmu akan bertambah dengan tambal kerugian itu dengan tanganmu sendiri. bukan dia. mengerikan bukan.

maka. menawar itu wajib. membuat nanar itu tidak ajib.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s