88

Aku bertemu seorang bapak lansiran 1928. Usianya kini 88 tahun. Masih merokok pula. Aku pancing dia untuk mengaku. Tentang rahasia yang dia sekap selama ini untuk terus bertahan hidup.

Dia hanya berkata, jangan berlebihan dan jangan banyak pikiran.

Sederhana memang rahasianya. Aku ajak dia beranya jawab tentang sebab akibat. Dia ceritakan dengan sudut pandangnya. Anaknya kini berdiaspora. Dia ceritakan sepak terjangnya di seputaran asia. Dia rangkai di satu bingkai kehidupannya yang dia jaga begitu lama. Bapak tua yang aku temui ini lalu pamit berlalu. Menjauh dari pandanganku. Hilang di keramaian bilangan dr.djunjunan. ketika aku masih duduk di kursi kayu bantalan rel kereta api.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s