pria sejati pandai mengemudi

merajut saudara di kyai gede utama. bayu dan banyu tidak dapat hadang langkahku untuk berkonspirasi kali ini. maklum aku rindu. akan suasana dan humaniora.

mereka tetap bersahaja. tidak ada suara tanpa tawa. hampir semua saling tanya kabar dan kisah terkini. maklum jarang bertemu. ketika aku duduk di tempat yang sama saat dulu masih satu jalur berlari bersama mereka menjemput asa.

dan aku tenggelam di rimbunnya segaris hutan tua di sayap dago ketika itu. bersama segulung cerita dan kopi buatan iman yang flamboyan. yang kini aku ikat lagi tiap tepiannya di dinding – dinding perjalananku. bila sewaktu-waktu aku rindu. aku bisa ingat lagi dengan mudah keromantisannya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s