jingle ice cream

sewaktu masih bekerja di rumah. aku hampir putus asa dan menyerah terhadap tugas pekerjaanku yang masih belum aku sempurnakan strukturnya. ditambah batas waktu penyelesaian yang sialan. lengkap sudah semuanya. aku tenggelam di dalam sumur yang aku gali sendiri.

sampai ketika aku tinggalkan sejenak kebuntuan ideku. mencoba relax duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi sisa semalam. peace.

tapi.

ketenanganku tiba-tiba terusik dengan suara jingle lagu es krim. makin dekat suara itu semakin membuatku terusik. sampai ketika aku melihat si penjual es krim sekaligus sumber kegaduhan suara yang menggangguku.

seketika aku malu akan diriku sendiri. malu akan daya juangku untuk menjalani hidup.

Aku melihat seorang tua yang tetap tegar mendorong keranjang es krim walau memiliki keterbatasan anggota badan di siang itu. jujur aku tidak sanggup menatapnya. bukan aku tidak tega. tapi aku malu. malu pada diriku sendiri.

dan setelah hari itu. jingle es krim yang dulu aku benci mendengarnya. berubah menjadi pengingat diriku sendiri untuk tetap berjuang dan tidak mudah menyerah akan kehidupan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s