ijab kabul

dulu sudah aku taksir harganya. waktu itu kita sama-sama cocok. meskipun ada sedikit ketidak sepakatan yang di sepakatkan. tapi akhirnya kita mufakat. maklum jual beli warung sennggol.

nyali dan dana sudah ada di tas kreseku. aku tinggal mau dan bawa pulang. tapi entah apa waktu itu yang membuat harus enggan.

beberapa kali dia menanyakan padaku lagi tentang transaksi ini. dan semakin dia menanyakan itu. ikatan ingin itu menjadi semakin longgar dan longgar. dengan mengimani ego ‘pembeli adalah raja’, aku berlalu berpaling muka.

satu tahun kemudian. almanak membisiki aku. betapa buruknya aku menghabiskan waktu.

dan aku ingat transaksi itu lagi. ketika aku cari sumber informasinya. tidak ada sebaris informasi pun yang aku dapat baca. sampai aku mati-matian menelusuri setiap los kios yang ada. barangkali masih ada berita masih tercecer. tapi tidak.

sampai aku bertemu dengan kios yang setahun kemarin aku sambangi. kini kios itu tertutup rapi. berdebu dan sudah tidak terlihat aktifitas kehidupan dalam waktu yang cukup lama.

entah wangsit dari mana. aku ambil kesimpulan untuk menyelipkan surat. barangkali mereka masih sempat sesekali kunjungi tempat dimana aku berada kini.

dan wangsit itu berbuah hasil. aku nyatanya dapat balasan. dan aku tidak tanyakan lagi transaksi itu. menurutku itu terlalu aku untuk aku langsungkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s