time

aku lalui lagi jalan ini. jalan yang aromanya seperti halaman rumahku yang dulu diisi dengan bercocok tanam.

udaranya nyaris sama. tapi mungkin sedikit lebih panas karena efek domino hunian yang besar-besar dan wahana keluarga masakini disana-sini. yang hasilnya adalah antrian kendaraan tamu di waktu-waktu merah.

aku masih takjub menatap tampilan alam yang di bingkai bersamaku kala itu. ketika aku dan ayahku menghabiskan waktu ditempat itu.

menjadi layaknya laki-laki yang selalu haus bepergian. terutama ayahku yang petualang murni. aku hampir tidak pernah ragu bila masuk rimba dengan ayahku. semua seakan baik-baik saja karena aku tahu rekam jejaknya.

sampai di 2016. ketika aku gilas lagi aspalnya. kini air terjun itu telah berbenah menjadi curug ( air terjun ) pelangi. yang curahan airnya akan memancar warna-warni bila malam.

dan air terjun itu. akan selalu menceritakan lagi kisahku ketika dulu aku berkunjung kesana. terekam. tidak pernah mati.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s