pilihan

aku pergi tinggalkan rumah. supaya mirip orang lain yang telah. menjadi pengembara meniru televisi. mencari uang yang sama-sama terbuat dari kertas, katun atau serat pelepah pisang.

bukan aku tidak fasih membaca peluang di desa. ini semata-mata ego laki-laki yang wajib jauh dari rumah. supaya ketika pulang. setidaknya ada bingkisan cerita, kalau-kalau lupa membawa buah tangan.

sesampai di tempat tujuan pun, hasrat tidak begitu saja luluh. karena mereka lebih dulu membangun wacana sebelum kita benar-benar sampai.

kita temui lagi deja vu yang kita alami di desa. karena tekanan ekonomi yang ogah di bawa sederhana untuk sebuah kota.

aku termenung di ibu kota. aku sepi disini. di kursi kayu milik pemerintah yang bising karena orang lain lebih gila lagi dalam bekerja.

harapan orang tuaku seperti lebih terdengar disini. yang nyatanya belum berbanding lurus dengan keadaanku yang harus selalu baik-baik saja di chaos-nya metropolitan.

untungnya aku hanya bermimpi. dan kenyataanya desaku lebih menjanjikan dari pada ikut arus untuk berhimpitan seperti kebanyakan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s