Pool School

Pagi itu masih dingin. Tirai embun masih bisa aku lihat dan rasakan. Terlebih letihnya betis karena perjalanan ke sekolah yang cukup membuat lelah.

Aku sangat bersyukur bila menemui pagi yang cerah. Ya karena aku tidak usah memisahkan lagi lumpur di karet sepatuku. Terlebih akan gusar rasanya bila kaos kakiku di corat-coret rumput ber-pilox tanah basah, yang tidak sengaja aku tabrak posisinya. Ketika melangkah.

Sesampai disekolah, aku harus buka sepatu. Karena lantai keramik yang aku angsur dari iuran bulanan sekolah tidak boleh kotor. Ironis.

Keringat hasil perjalanan tadi masih belum kering. Gerah rasanya. Tapi kakiku dingin. Tuah peraturan telanjang kaki di lantai kelas.

Selebihnya adalah proses belajar mengajar yang sama sepeti dinas pendidikan.

Teeeeeeeeetttt!

Kode istirahat berkumandang, teman-temanku berhamburan kesetanan menuju kantin. Kolosal memang. Terlebih mereka butuh asupan. Untuk tunjang konsentrasi menyerap ilmu. Semoga.

Dan aku hanya duduk-duduk di pelataran kelas. Karena trauma dengan menu yang ada. Ketika es teh plastik yang aku beli, di dalamnya menari-nari bulir-bulir nasi. Horror memang.

Terlebih aku kurang berminat untuk berkumpul di kantin belakang, walaupun mereka  memfasilitasi wahana adrenalin bakar tembakau.

Aku lebih suka bermain gitar, corat-coret di papan tulis atau mengasah ketangkasan mendekati wanita di kelasku. Bagiku itu lebih berguna. Dan menghasilkan.

Sampai akhirnya aku dapatkan hatinya. Dia menyatakannya padaku dengan wajah yang merah. Karena malu. Dan yang aku tahu saat ini adalah. Dia memerah karena dia tekan egonya. Sampai logika dan perasaanya tidak sejalan lagi. Konflik. Dan meronalah raut wajah malu memerah.

What’s next?

Itu pertanyaanku ketika aku sudah setuju dengan penawaran hatinya.
Sampai akhirnya kita pisah. Dan aku temui hati yang lain. Dengan komposisi matrik yang unik.

Pulangggg!!!

Inilah tugas kakiku selanjutnya, kembali melangkah. Mengarah rumah. Kadang tersangkut di rental PS kebih menarik. Kadang menumpang minta air lebih menelisik.

Semua mengalir sangat menyegarkan. Sebelum lahir UAN yang menyempitkan. Dan menjengkelkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s