Intro

Duduk di kursi bambu. Dingin. Karena 04.56. Di jalan sepi tubagus ismail dalam. Yang masih jarang di lindas oto.

Terlebih bapak tua ketika aku berdoa. Dia revolusioner. Dan itu membuatnya menonjol. Menjadi perhatian di saat kudus.

Entah apa motivasinya. Yang pasti itu akan baik ketika aku melihat dari sudut yang baik.

Tinggal suara selokan seperti nada terapi. Mengalun tanpa listrik. Tanpa baterai. Hanya hukum alam yang pasti. Hulu ke hilir. Menjadi alasan dia mengalir.

Di iringi suara televisi tanpa gambar. Karena aku masih diluar. Menatap rumah berangka 17. Ketika sesekali motor lalu lalang tanpa diundang.

Rokokku hampir habis. Padahal samsu. Dan tidak bisa menghangatkan dinginku saat ini. Bila ada orang yang bicara rokok bisa menghangatkan tubuh. Mereka mungkin bukan perokok. Jangan percaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s