jalanan bukan arena perasaan

pengendara motor berkelamin wanita, mengerikan!

jangan biarkan orang terdekat, kerabat, saudara (wanita) anda bisa berkendara, terlebih motor. ini bukan masalah gender. tapi ini masalah kenyamanan bersama.

aku sering mengalah mundur (jaga jarak yang sangat – sangat aman), bila aku tahu di depanku ada wanita yang berkendara. pasalnya mereka sangat percaya diri menggunakan “perasaan” nya saat berkendara.

seperti : “perasaan bisa nyalip nih! (tanpa lihat spion)”, ( padahal di belakangnya telah besiap pengendara lain yang lebih siap untuk nyalip), “perasaan udah di pinggir (bahu jalan)” ( padahal masih ditengah – tengah jalan ). “pelan – pelan aja ah, biar selamat.”, ( pale lu! pelan sih pelan, tapi jangan ngalingin jalan orang dong) atau “belok kiri ah”, (padahal lampu sign masih arah ke kanan / sama sekali nggak pake sign dan langsung belok tanpa aba-aba).

dan ketika kaum hawa ini udah merajai aspal jalanan, salah atau benar mereka adalah yang paling benar. meskipun mereka tahu mereka salah, tapi lagi – lagi “perasaan” mereka berkata bahwa mereka sangat benar. ironis.

pernah satu ketika, didepanku ada wanita berkendara. aku tahu aku harus jauh – jauh dari mereka, karena mereka tidak pernah bisa di tebak arah tujuannya. ketika si wanita dengan sangat santai memacu motor di jalanan yang kurang terrawat (bolong – bolong). aku yang saat itu lumayan kesal karena kelakuan berkendara wanita ini, harus menahan emosi dan terus membuntuti motor wanita tersebut. pasalnya, dia ada di jalur jalan yang cukup rata tanpa halangan lobang berarti.

seketika si pengendara wanita di depanku berhenti mendadak dan mengarahkan wajahnya ke arahku (belakang). dan dia berkata dengan marah “jangan ikutin saya terus dong!”.

marah campur geli aku rasakan saat itu, karena perasaan si pengendara (wanita) berasumsi, bahwa  aku mengikutinya terus. “bu, jangan kepedean deh. situ udah bawa motornya pelan-pelan dan ngalingin jalur orang (jalur jalan yang nggak berlobang). pake marah – marah pulak, serasa di buntuti”.

ini adalah cerita nyata dari hidupku, terhadap wanita yang lebih banyak mengunakan “perasaannya” saat berkendara.

maka dari itu, jagalah wanita – wanita yang engkau cintai. untuk tidak berkendara dan belajar berkendara. karena jalanan tidak berperasaan!

tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s