security , make secure?

 

belakangan ini security parkir yang aku temui, tabiatnya seperti layaknya wanita. ingin di mengerti, tapi ngambek kalo di kasih pengertian.

hari pertama aku parkir di restoran waralaba bilangan dipatiukur. aku parkir motor di sana untuk menyambangi kostan kerabat. ya, karena lagi-lagi lingkungan kostan yang tidak kondusif.

setelah selesai berkunjung dan kembali lagi ke tempat parkir untuk ambil motor dan pulang. ketika cek saldo, Uang di saku-ku hanya tinggal sisa 1000 perak.

setelah menyalakan mesin motor, seperti biasa datanglah security untuk menagih “jatah” sewa tempat. aku kasih dia uang terakhirku, yaitu 1000 perak tadi. dan apa hasilnya, security itu ngambek seperti wanita PMS, yang tidak mau mendengarkan penjelasan pacarnya (konsumen).

hari kedua aku parkirkan di tempat yang sama, di restoran waralaba tersebut. Dengan maksud yang sama untuk berkunjung ke kostan kerabat. dan setelah belajar dari kejadian pait di hari pertama. aku kini memberikan uang selembar 5000 perak. supaya tidak terjadi lagi “pemborosan energi” untuk aku dan si security.

in the end, ketika aku kembali ke tempat parkir untuk mengambil motor, datanglah security yang modusnya sama untuk meminta “jatah” lapak parkir. aku kasih dia 5000 perak, apa jawabannya (security) “kembalian pak?”. what the fart!  menurut ngana?

honestly, itu adalah pertanyaan paling konyol di awal tahun 2016 ini.

aku jawab “iya pak, kembalian!”, dan tunggu punya tunggu, si security berlari menukarkan uangku menjadi pecahan. tidak lama dia kembali dan memberikan uang kembalian senilai 2000 perak. what the fart is going on?  

dengan muatan kata “maaf” ( biar iba, gitu? ), dia berharap dapat sesegera mungkin menyelesaikan permasalahan yang dia buat sendiri ini, agar segera selesai. dan kurang lebih kontennya seperti ini, “maaf pak, 1000 lagi tidak ada, seraya ( memberiku uang kembalian 2000 perak )”. (dengan mimik tersenyum jumawa) dia tinggalkan aku dengan kata terimakasih dan berlalu. titit!

fenomena ini untuk aku adalah bahaya laten!, dalam hal ini aku tidak mau memaklumi mereka, karena mereka hanya kaum buruh pekerja. ini tidak ada sangkut pautnya dengan itu. ini jelas pelanggaran hak konsumen, toh dengan predikat “buruh” tersebut, mereka berhasil jadikan tameng keuntungan dan selalu menang (red: tidak mau kalah). sepakat?

kejauhan deh kalo mereka harus diberi penerangan informasi tarif parkir sesuai peraturan pemerintah, toh mereka usahanya juga disitu. dan sekali lagi, kalo fenomena ini udah di cap sebagai “ranah usaha”, maka azas keuntungan harus diatas segalanya. business is business, right?

jadi kalo situ mau pake tarif parkir se’enak galer, ya harus sebanding lah sama service yang di berikan. bukan cuma jadi si jago ngambek kalo kemauannya nggak di turutin.

cerita ini aku sadur dari pengalamanku sendiri di 2016 masehi, bila ada ketidak setujuan dari sudut pandang pembaca. itu urusan anda.

tabik.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s