the end of the show

hari ini hari terakhir,

hari yang isinya lika-liku bumbu warung, penyedap dan aroma essen vanili yang flamboyan. foto gambar yang panutan pun redup karena cahayanya di putus PLN. tinggal bayang-bayang buram yang masih bermukim dan sebentar lagi angkat kaki karena malu.

tetesan air kopi yang perlahan mengering di bibir gelas, seraya hilang terbawa sabun cuci yang akan di karyakan kembali.

dingin yang mengembun di kaca helm SNI, tidak menghalangi ambisiku untuk tidak pulang. biarlah mengembun. biar.

toh, warung ini masih menyala karena tidak di matikan.

sambil menghitung hasil buruan, di bangku panjang. bangku yang lengket dan membuat tuannya enggan untuk beranjak.

si bapak berjenggot yang kini di sebut gentleman, karena hasutan media barat yang persuasif. mengantar lagi satu mangkok mie instan dengan irisan sayur dan rawit, ke arah sejoli yang sadar betul akan rasa lapar.

mereka meminta sendok lebih dan memilih untuk tidak seia-sekata dalam satu sendok. tidak suap-suapan, tidak gombal-gombalan. ikatan cinta mereka kendor di tarik rasa lapar yang egois.

sampai habis, tinggal hikmahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s