90s

satu masa humaniora, gurat-gurat waktu yang tebal mengukir cerita selamanya. ketika gelisahnya menunggu pagi untuk merasakan aura minimarket pertama ada di tempat tinggalku. ketika telepon umum selalu jadi tujuan sepulang sekolah. ketika ding-dong harus aku tempuh dengan berjalan kaki untuk aku sambangi. ketika komik dan kartun minggu menjadi bahan obrolan senin pagi. ketika tazos dan kelereng bisa di tukar dengan uang.

telanjang kaki menggiring bola, ditemani hujan dan lumpur. mengantar matahari sore keperaduannya. sampai peluit Adzan magrib mengakhiri pertandingan.

malam yang diisi oleh lagu-lagu gitar. berkumpul dengan saudara yang lebih tua, mencari jati diri dengan bakar tembakau.

atau sesekali ikut mereka bermain musik di rental band yang berhadiah satu bungkus djarum super / jam nya.

bersepeda malam hari, menembus kegelapan mencari keringat atau mengadu ketangkasan bermain layang-layang, yang tidak jarang berakhir dengan perkelahian.

tidak ada tempat yang menarik untuk hanya tinggal di rumah, kecuali makan, minum dan minta jajan.

semua waktu terisi dengan semestinya.

tabik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s